Terus...teruslah berlari dengan kaki-kakimu.
Aku terkikik kecil melihatnya. Pemuda berambut pirang itu berlari beberapa saat, tapi kemudian dia berjalan terseok-seok dengan cepat. Lucu sekali. Benar-benar out of character...
Apa semua manusia seperti itu?
Saat dia merasa berkuasa, dengan orang-orang yang menopang punggungnya, dia akan berdiri dengan penuh kesombongan, membusungkan dadanya dan menaikan dagunya. Bersikap seolah dialah yang paling hebat, bejalan dengan penuh keangkuhan. Bahkan, tak peduli saat ada yang membutuhkannya.
Kemudian dia berubah seperti itu, berlari sambil sesekali menengok ke belakang. Jantung yang berdegup keras, napas yang terdengar di gedung sunyi ini, adrenalin yang terpacu...semuanya melebur dalam rasa taku dan panik, membuatnya tak dapat bergerak dengan leluasa -- tak bisa berjalan dengan segenap auranya.
Benar-benar lucu. Benar-benar menarik...aku jadi ingin memilikinya, menjadikannya koleksiku.
Aku berjalan dengan tenang di belakangnya. Jarak kami lumayan jauh, dan dia sudah berkali-kali menengok untuk memastikan aku masih jauh. Aduh, bagaimana kalau nanti kau malah terjatuh dan patah leher? Aku kan, jadi tidak sempat menyiksamu... Ah, tapi ini juga bentuk siksaan, ya. Kau yang berlari padahal terluka, dipenuhi rasa takut. Menyenangkan juga.
Mungkin lebih baik aku berjalan lebih cepat. Aku ingin menyelesaikan ini sebelum matahari terbenam.
Suara tawa lagi-lagi keluar dari bibirku saat melihat jejak tetesan darah yang tercecer dari luka pemuda itu. Yah, aku tak pernah memeiliki stamina yang bagus hingga bisa berlari meski terluka begitu. Dan sinar kemerahan khas matahari terbenam itu menembus memasuki koridor gedung yang beberapa kacanya sudah pecah ini. Sebentar lagi gelap, kurasa itu akan lebih menyenangkan.
Mataku menangkap ujung bayangannya sesaat setelah perhatianku teralihkan. Tanganku mencengkram sebuah gunting berlumur darah yang sudah mulai kering itu.
"Come out, come out, where ever you are..."
<>,<>,<>,<>,<>,<>,<>,<>,<>,<>,<>,<>
Astagah, kenapa waktu cepat berlalu?
Matahari itu sekarang sudah digantikan rembulan, si penebar cahaya pucat.
Malam ini bulan penuh, ya... Terang. Aku dapat dengan mudah melihat jejak-jejak darah yang ditinggalkannya.
Uh...kenapa dia tak kunjung menyerah, sih?
Apa luka yang kubuat tadi tidak cukup dalam, ya?
Gedung ini memang terlalu besar, sih. Tapi...apa ini? Koriodr ini tak tertembus cahaya bulan...hanya ada satu jendela pecah di ujung sana, dan cahayanya tak cukup. Banyak pintu di sini. Sebuah senyuman muncul di wajahku.
Uwaaaah, ini semakin menyenangkan.
Apa kau mengajakku bermain petak umpet sekarang? Aku tak bisa melihat jejakmu dengan jelas, bukankah ini menyenangkan? Aku akan memasuki ruang di balik pintu-pintu ini satu-persatu, dan aku yakin, kau pasti ada di dalan salah satunya!
Bukankah ini jalan buntu? Menyenangkan, menyenangkan sekali!
Krieeet...
Ah, pintu tua yang menibulkan suara! Aku suka! Suka!!
Ini seperti musik bagiku. Tapi sepertinya ini terror bagimu, ya.
Aku berjalan dengan lengan menggantung dan sesekali tubuhku seperti tak seimbang. Ya ampun, sepertinya aku kelelahan hanya dengan berjalan mengikutimu. Aku menyerah untuk mengangkat kaki. Sepertinya aku akan menyeretnya saja...tak masalah, kan? Tinggal tiga pintu yang tersisa...
Dan coba tebak!
Cahaya bulan itu sampai kemari! Oh, lihat itu. Bukankah itu jejak darahmu? Mengarah pada pintu terakhir di ujung koridor. . .
Kau ternyata menyebalkan, ya. Selain kejam, kau juga berani sembunyi sampai ke ujung.
Nah...tak ada jalan keluar sekarang.
Krrrk!
Apa ini...? Kau berusaha menghalangiku masuk?
Kau menahannya dengan tubuhmu, ya...? Wah, bagaimana kalau kita coba saja? Lagipula...ini hanya kayu lapuk yang bisa ditembus, kok.
Jraak! Jraak! Jraak!
"AAAAAAAAAAHHHH!!!"
Nah, aku bisa masuk sekarang. Teriakanmu tadi keras sekali.
Ruangan ini memiliki jendela, aku jadi bisa melihatmu dengan jelas, lho! Kau terduduk di pojok sana, terjebak oleh dinding yang bernoda merah. Rambut pirangmu tampak berkilau tertimpa cahaya bulan. Dan, tunggu. Apa itu air mata?
Apa kau akhirnya menyesali perbuatanmu, Jongin?
Apa kau...tak akan pernah menggangguku lagi?
"Ja-jangan, Soo... Kumohon, jangan lakukan itu!"
Bukankah aku ini hyung mu? Kenapa kau memanggilku begitu?
Nah, kurasa...tak ada yang bisa di neogsiasikan lagi...
"Hyung!! Sadarlah...! Andw---AAAAHH!!"
Kau barusan memanggilku hyung. Haruskah aku membiarkanmu pergi begitu saja?
Tapi sepertinya menyiksamu sampai gila lebih menyenangkan.
pict: here

Tidak ada komentar:
Posting Komentar